| By Ketut Oka,
on 10-04-2009 09:45
|
Views : 658 |
Favoured : 46 |
Published in : Hindu Dharma, Tatwa |
Agama bertitik tolak dari kepercayaan manusia kepada Tuhan. Bentuk-bentuk pelaksanaannya akan sesuai dengan isi dari kepercayaannya itu, Isi kepercayaannya itulah merupakan ajaran ketuhanannya. Ajaran ketuhanan itu dalam lontar-lontar di bali di sebut Çiwa-Tattwa. Çiwa adalah sebutan Tuhan Yang Maha Esa, yang sama dengan istilah Brahman dalam kitab Upanisad atau sama dengan Tat-Sat dalam Weda. Sedangkan kata Tattwa berarti hakekat. Jadi Çiwa-Tattwa berarti ajaran tentang hakekat Çiwa (Tuhan).
Menurut Çiwa-Tattwa dinyatakan bahwa ada 2 aspek Çiwa, yaitu : 1. Aspeknya yang trancendent (mengatasi segala) 2. Aspeknya yang immanent (hadir dimana-mana)
Dalam aspeknya yang trancendent beliau adalah Nirguna Brahma atau Parama-Çiwa, yang bersifat serba bukan atau serba tidak. Bukan ini bukan itu (na iti na iti), tak terpikirkan(acintya), tak dapat digambarkan (nirakhyatah), tak berpribadi (impersonal God), tak dapat dibatasi dan sebagainya. Sedangkan dalam aspeknya yang immanent, beliau adalah Saguna Brahma atau Cada Çiwa yang bersifat serba Ia. Ia ayah (sah Pitah) Ia Ibu (sah Natah), IA Saudara (sah Wanduh) dan sebagainya. Ia bersifat serba Maha, Mahapengasih, Mahabijaksana, Mahakarya dan sebagainya. Ia bisa hadir dan dihadirkan dimana-mana sesuai dengan keinginan pemujaNya(Istadewata), jadi beliau berpribadi(personal God).
Çiwa dalam aspeknya yang transendent akan berkaitan dengan konsep ketuhanan dalam filsafat, sedangakn Çiwa dalam aspeknya yang immanent, berkaitan dengan konsep ketuhanan dalam bhakti atau pemujaan.
Terkait dengan konsep ketuhanan dalam bhakti kita mengenal ada "WIJA" dan "BHASMA" yang merupakan sarana penting dalam pemujaan kepada Çiwa. Apakah wija dalam bhasma itu? Bagaimana cara pemakaiannya? Siapa yang boleh dan patut memakainya? Apa maknanya? Barangkali masih ada banyak hal lagi yang patut kita pelajari dari wija dan bhasma tersebut.
Pertama-tama patut diketahui bahwa wija tidaklah sama dengan bhasma, walaupun masyarakat sering menganggapnya sama. Kata wija secara harfiah berarti biji, benih, anak/putra. Selaku istilah teknis yang dimaksud wija itu adalah sarana upacara yang terbuat dari biji beras yang dicuci dengana air cendana atau air tabah. Sedangkan kata bhasma adalah kata yang berasal dari sansekerta yang berarti abu. Bhasma adalah abu atau serbuk endapan "asaban" cendana. Karena adanya kata bas dalam kata bhasma inilah kiranya orang mengira wija yang bahannya beras itu sebagai bhasma, mengingat kata bas dalam bahasa bali artinya beras.
Berdasarkan dari pembuatan wija maka jelaslah bahwa wija adalah lambang kumara (Om Kung Kumara Wijaya Namah). Kumara adalah wija atau putra Çiwa menurut Çiwa tattwa. Sesuai dengan ajaran Çiwa-Tattwa maka semua umat yang masih berstatus walaka pada hakekatnya adalah kumara-kumara, artinya bahwa dalam dirinya terdapat benih ke-Çiwa-an, mengingat aspeknya yang immanent. Mengingat pula manusia disebut juga jatma atau atma (Çiwatma/Jiwatma) yang lahir menjasmani yang merupakan atmaja. Singkatnya manusia atau jatma atau atmaja itu adalah atma/rohani yang menjasmani yang merupakan walaka atau atmaja atau putra Çiwa yaitu Kumara. Berdasarkan uraian ini maka yang "mawija" adalah umat yang berstatus walaka. Pemakaian wija bagi umat walaka dapat diartikan sebagai simbolis untuk meng-Kumara-kan diri seseoarang, artinya agar dalam diri orang tumbuh dan berkembang benih ke-Çiwa-an atau sifat kedewataan itu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa makna mawija adalah untuk meningkatkan kualitas manusia atau memanusiakan manusia.
Untuk maksud dan tujuan tersebut, maka pemakaian wija yang terpenting adalah ditanam ditengah-tengah kedua sisi alis(slaning lalata) dengan maksud agar dalam pikiran orang tumbuh dan berkembang benih ke-Çiwa-an itu, mengingat tempat tersebut adalah tempat pusat berpikir. Kemudiaan tak kalah pentingnya lagi adalah ditanam di ladang hati orang dengan cara menelannya. Dengan maksud agar dalam hati orang tumbuh dan berkembang pula benih ke-Çiwa-an tersebut. Kedua tempat tersebut yaitu :Pikiran dan perasaan/hati memegang peranan sangat penting dalam kehidupan spiritual manusia. Patut diingat bahwa agar benih yang ditanam itu dapat tumbuh subur maka ladangnya harus dibersihkan terlebih dahulu dari tanaman pengganggu, maka itulah sebelum mawija patutlah terlebih dahulu metirtha yang bertujuan untuk membersihkan atau menyucikan pikiran dan hati manusia.
Bhasma menurut hemat kami hanyalah dipakai oleh pedanda atau beliau yang berstatus sebagai anak lingsir, mengingat sampai kini belum kami temukan pamakaian bhasma untuk walaka. Sebaliknya juga belum kami temukan cara maupun puja pemakaian wija untuk diri seorang pendeta. Maka kami berpendapat bahwa mawija adalah untuk umat walaka sedangkan mabhasma untuk sulinggih. Namun dalam kenyataannya lebih banyak kami lihat Ida Pedanda juga memakai wija disamping mabhasma. Lebih jauh secara konsepsional tentang Bhasma banyak dijelaskan dalam lontar Bhuwana-Kosa, baik yang disebut Bhasma-Sesa maupun Çiwa-Bhasma. Pustaka Weda Parikrama membri petunjuk secara teknis mengenai pemakaiannya. Pada prinsipnya bhasma memiliki 3 makna,yaitu : sebagai sarana penyucian (bhasma-sesa dan bhasma-snana), sebagai sarana merealisasikan Çiwa pada diri seorang pendeta (Çiwa-Bhasma) dan terakhir untuk kalepasan.
Orang yang membaktikan dirinya pada Çiwa memakai wibhukti atau abu suci di dahi dengan tiga garis lurus untuk mengingatkan diri mereka pada tiga aspek Çiwa yaitu Mencipta, Merawat dan Mepralina. Demikian dikatakan dalam buku (Hinduisme in Introduction).
Demikian sedikit tentang wija, bhasma dan Wibhukti yang bisa kami sampaikan. Sumbangan pikiran, saran-saran, dan sebagainya dari krama sangat kami harapkan untuk menyempurnakannya. Last update: 04-01-2010 09:16
|