| Hindu Dalam Wacana Bali Centris |
| By Bhagawan Dwija,
on 10-04-2009 09:08
|
Views : 814 |
Favoured : 36 |
Published in : Artikel, Opini |
Centris dari kata Centralize berarti memusatkan sehingga Bali centris dalam tulisan ini diartikan sebagai suatu pandangan yang menempatkan budaya dan tradisi Hindu di Bali sebagai pusat / acuan pelaksanaan dan tatanan hidup beragama bagi pemeluk Hindu di Indonesia. Di Bali budaya dan Agama telah menyatu karena keduanya saling mendukung. Keinginan mengadakan reformasi di segala bidang akhir-akhir ini menimbulkan wacana yang berkembang, antara lain tentang Bali centris yang ditolak oleh beberapa kalangan baik yang tinggal dan berasal dari Bali maupun yang di luar Bali. Hal ini sebaiknya dikaji lebih dalam agar reformasi dilaksanakan dengan tepat dan berdampak positif bagi umat Hindu di tanah air. Kajian diawali dengan meneliti sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia. Sebagaimana ditulis dalam buku Pengantar Agama Hindu untuk perguruan tinggi, Cudamani, 1990 ada tujuh Maha Rsi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Last update: 10-04-2009 09:54
|
|
|
| Paid Bangkung..? Why not...?? |
| By Purnaya,
on 02-12-2007 00:00
|
Views : 594 |
Favoured : 42 |
Published in : Artikel, Opini |
Ngidih olas de kanti paid bangkung’ (Minta tolong jangan sampai ketarik oleh induk babi betina), yang mengandung arti dan pesan; sebagai seorang lelaki Bali (baca; beragama Hindu) jangan sampai terpengaruh atau mengkuti keyakinan/agama pasangannya (pacar atau istri). Begitulah kira-kira istilah atau pesan yang sering didengar atau diucapkan oleh kalangan anak muda Bali yang berada di perantauan. Oleh mereka biasanya dipergunakan sebagai bahan guyonan ataupun peringatan kepada teman, sahabat atau siapapun yang berasal dari Bali. Sebelum populer di luar Bali, istilah ini sudah berlaku bagi seorang laki-laki yang ‘pekidih’ atau ’nyentana’ (laki-laki yang tinggal di rumah sang istri dan bertindak sebagai ahli waris). Atau sebagai bahan celaan bagi laki-laki yang terlalu nurut kepada pasangan atau istrinya. Last update: 10-04-2009 01:56
|
|
| By Ketut Oka,
on 01-01-2007 00:00
|
Views : 298 |
Favoured : 43 |
Published in : Artikel, Opini |
Akankah kegiatan yang Masuk ke Muri dapat membangkitkan Bali dari ketepurukannya? itulah yang sering terlintas dalam pikiran kita.... Apakah kebetulan atau tidak setelah terjadinya Bom Bali jilid satu dan dua banyak bermunculan ide-ide kegiatan yang spektakuler, dan berdalih untuk membangkitakan bali dari kertepurukan...
Sebut saja Cak Kolosal yang diadakan tanah lot tabanan, kegiatan ini menghadirkan kurang lebih lima ribu orang peserta. Dari peserta yang terlibat, sekilas terkesan fantastis. Namun secara detail diperhatikan jumlah peserta ini terkesan dipaksakan memenuhi target lima ribu peserta. Hal ini lumrah mengingat bukan kualitas yang diutamakan tetapi kuantitas yang ingin di capai...
Kemudian pada akhir tahun 2006 di karangasem juga diadakan acara serupa, tetapi dalam hal ini makan bersama yang dalam istilah balinya megibung. Acara magibung massal ini diadakan di Taman Soekasada Oejoeng, Karangasem. Walaupun dibawah gerimis hujan para peserta antusias mengikuti acara ini...... Konon acara yang dihadiri oleh pejabat pusat ini menghabiskan dana sebesar satu milyar rupiah.
Namun dari kedua acara ini kita patut memberikan ancungan jempol untuk penggagasnya dan kita salut sama penyandang dananya. Tetapi kedua acara yang fantastis ini kesannya sangat dipaksakan untuk bisa masuk ke muri. Juga maanfaat nyatanya bagi masyarakat bali belum kelihatan, mungkin suatu saat nanti...tidak tahulah kapan? Atau mungkin suatu saat nanti bali malah dikenal dengan rekor muri-nya? Tetapi Bali kan sudah terkenal ..........
Last update: 10-04-2009 01:51
|
|
|
|
|
|
|